Tragedi Jembatan Gantung Citano Cibodas

Jembatan Gantung – begitulah warga menyebutnya, jembatan yang konstruksinya hampir mirif dengan jembatan kuning yang berada di Bagbagan sungai cimandiri ini kini sudah tidak digunakan lagi, jembatan yang merupakan peninggalan jaman belanda yang dibangun pada 1920-han menyisakan banyak cerita dan sekaligus punya kisah perjalanan yang punya nilai sejarah. Pada jaman dulu dimana negeri ini masih dikuasai oleh penjajah wilayah palabuhanratu kabupaten Sukabumi tidak lepas dari agresi militernya yang mana wilayah pelabuhanratu merupakan daerah yang sangat strategis untuk dijadikan sebuah pelabuhan dalam pengantarkan hasil panen bumi seperti kopi, karet, teh, cengkeh dan lain lain melalui jalur laut.

 Jembatan Gantung
Jembatan Gantung Citano/Cikurutug Palabuhanratu

Untuk memuluskan perjalannnya dari tempat yang satu ketempat yang lain dalam setiap pengiriman hasil panen bumi tersebut pihak penjajah dari Belanda membangun jalur penghubung pelintasan diatas sungai diantaranya Jembatan Kuning Cimandiri di Bagbagan dan Jembatan Gantung yang warnanya masih sama (berwarna kuning) diwilayah Antara pelintasan Cikurutug ( Desa Cibodas) dan Citando (Cimanggu), kedua jembatan tersebut hingga kini masih berdiri kokoh namun sudah tidak layak untuk dilintasi

Jembatan Gantung

Pada masalalu cerita dari jembatan gantung cikurutug menyimpan kisah yang sangat pilu dimana pada masa kompeni berkuasa dilokasi ini telah terjadi tragedi yang sangat tragis yang mana kejadian pada waktu itu para penjajah menyiksa tawanannya dan konon katanya mayat mayat yang menjadi korban kekejian tersebut dibuang kesungai diatas jembatan dan diceritakan pula dilokasi jembatan tersebut telah terjadi pembataian terhadap anggota PKI yang mana mayat mayatnya direndam disungai yang aliran darahnya mengalir kesungai menyebabkan Bau amis dari titik lokasi hingga kemuara yang berada dipantai citepus dan menyebabkan tidak dapat digunakannya air tersebut oleh warga pada waktu itu dalam waktu yang sangat lama.

Jembatan yang panjangnya ±50 Meter dan tinggi dari aliran sungai ±20 Meter dalam waktu 6 tahun kebelakang masih bisa digunakan oleh warga sebagai pelintasan dari suatu tempat ketempat yang lain terutama ke wilayah kota palabuhanratu, karna melalui jalur ini sangat memudahkan untuk segera sampainya, namun sekarang jembatan ini telah mati total dalam aktivitas pelintasan setelah terjdinya peristiwa perampokan atau pembegalan dijembatan tersebut, yang mana menurut warga begal tersebut merampas kendaraan korban dan membuang jasad korbannya ke bawah jembatan dan sejak pristiwa itulah dikabarkan mulai sepinya jembatan ini.

Dan sekarang jembatan yang punya nilai sejarah ini tidak lagi terurus sudah dikelilingi semak belukar yang menyebabkan jembatan ini terlihat angker dan menyeramkan. itulah sebagian cerita dari jembatan yang satu ini yang lokasi berada di Cikurutug Cibodas Palabuhanratu atau Citando, Semoga jembatan yang satu ini mendapatkan perhatian oleh pihak terkait dari pemerintah untuk dijadikan aset peninggalan Sejarah dan mendapatkan perawatan sebagai bukti sejarah perjalanan negeri tercinta ini.

Silahkan Bagikan.. !

Pos terkait